a Dreamer

Saya, Kamu, Dia, Kita, dan Mereka…

Setiap orang punya masalah. Saya, kamu, dia, kita, dan mereka…
Setiap orang punya cerita. Saya, kamu, dia, kita, dan mereka…
Setiap orang punya jalan yang ingin mereka tempuh masing-masing. Saya, kamu, dia, dan mereka…
Setiap orang punya cara untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Tentunya saya, kamu, dia, kita, dan mereka…
Tergantung gimana kita menanggapi masalah itu dengan bijak atau tidak.

Disini… Di Jogjakarta, saya bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai suku dan budaya yang berbeda, membuat saya banyak belajar.
Mendengar cerita mereka tentang keluarga dan orang-orang terkasihnya, membuat saya berpikir.

Broken Home, ditinggal orang tua terkasih, ibu dan saudara tiri, krisis ekonomi, MBA, drugs, masalah perkuliahan yang tak kunjung beres, pertengkaran antar teman, pertemuan dengan dosen pembimbing skripsi (walaupun belum), sampai putus cinta, maybe?

Ternyata, saya tidak sendiri. Saya masih harus banyak bersyukur dan bersabar. Masalah yang saya hadapi masih terlalu sederhana dan tidak bisa dibandingkan dengan masalah kamu, dia, kita, atau mereka.
Benar apa kata pepatah “diatas langit, masih ada langit”…
Saya pikir… jika saya tidak mengambil kesempatan untuk kuliah di luar Lampung, mungkin saya tidak akan bertemu dengan orang-orang hebat dengan masalah serta cara penyelesaian mereka masing-masing. Mungkin cara pikir saya juga tidak akan berkembang, karena pada dasarnya orang-orang terkasih yang saya kenal jauh di Lampung sana memiliki keluarga yang baik-baik saja walaupun sama sekali tidak menutup kemungkinan ada masalah di dalamnya.
Mungkin, cerita saya pun akan lain (ralat: pasti).

Disini, saya banyak menemukan wanita-wanita tegar dan kuat beserta dengan pemikirannya yang bijak dan dewasa. Kadang, saya suka bertanya dalam hati… Apa karena kita mahasiswa Psikologi? Apa karena kita diajarkan untuk saling peka? Untuk saling memahami satu sama lain, untuk selalu melihat keadaan sekeliling dengan pengambilan keputusan yang baik?
Ternyata jawabannya tidak. Saya pikir, tidak hanya mahasiswa Psikologi yang harusnya berpikir seperti itu. Hanya saja mungkin cara pandangnya yang sedikit berbeda.

Tuhan, selalu punya caraNya sendiri untuk menunjukkan mana yang baik, mana yang buruk.
Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Dan satu lagi, Tuhan selalu bekerja secara misterius.
Tugas kita hanya berbaik sangka kepadaNya…

Tulisan ini… Bukan hanya buat saya, tapi buat kamu, dia, kita, dan mereka…

Semoga ,Tuhan selalu melimpahkan rahmat dan lindungnNya untuk saya, kamu, dia, kita dan mereka. Aamiin.

23 September 2014
01:18 menolak untuk tidur.

daki-d:

maybe-im-a-monster:

amai-mirai:

This is the most adorable thing I’ve ever seen in my life.

Trynna contain the feels you’re catching like …

How I feel

sweet :)

(Source: kenlovers, via tryst--ing)

maybe you shouldn’t come back…

maybe you shouldn’t come back to me…

seoulheart:

 

i have to reblog this TT^TT

(Source: vine.co, via lovequotesrus)

laughingbear:

Aha I finished it!! Another Pikmin 3 drawing, started this morning aaaaaa ;v; I love drawing fruits!

laughingbear:

Aha I finished it!! Another Pikmin 3 drawing, started this morning aaaaaa ;v; I love drawing fruits!

(via awesomedigitalart)

lovequotesrus:

Everything you love is here

lovequotesrus:

Everything you love is here

breakinq:

following back tons

baru buka tumblr, langsung liat ini. setan ternyata ada dimana-mana ya. di tumblrpun adaaaa. aaaaak :/

breakinq:

following back tons

baru buka tumblr, langsung liat ini. setan ternyata ada dimana-mana ya. di tumblrpun adaaaa. aaaaak :/

(Source: swagg-checkk, via tryst--ing)